Top Menu

Seminar Nasional “Rekontruksi Kinerja Pendidikan NU di Era Global”. Itulah tema seminar nasional yang Saya ikuti sebagai tamu undangan, mewakili Politeknik Ma’arif Purwokerto pada hari sabtu 24 Oktober 2015 di hotel Dominic Purwokerto. Seminar yang diprakarsai oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Banyumas mengundang para tenaga pendidik yang di bawah lingkungan Ma’arif, baik dari tingkat MI, MTS sampai MA serta Perguruan Tinggi seperti STAIN/IAIN dan Politeknik Ma’arif Purwokerto. Sebelum acara dimulai, para peserta dan tamu undangan melakukan registrasi di tempat seminar, yaitu lantai 7 Hotel Dominic Purwokerto.

Seminar Nasional ISNU 1 Seminar Nasional ISNU 2

Acara dimulai dengan Gema Wahyu Ilahi dan Shalawat Nabi yang dikumandangkan seluruh peserta.

Seminar Nasional ISNU 3 Seminar Nasional ISNU 4

Kemudian peserta juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Adapun acara selanjutnya yaitu sambutan-sambutan, diantaranya:

1. Sambutan Ketua ISNU Banyumas oleh Drs. H. Khariri Shofa, M. Ag
2. Sambutan Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein

Seminar Nasional ISNU 5 Seminar Nasional ISNU 6
3. Sambutan Menteri Agama RI yang diwakilkan

Setelah acara sambutan selesai, lalu diakhiri dengan Doa bersama tanda seminar nasional telah dibuka. Berikutnya masuk ke acara utama, dengan dimoderatori oleh Dr. Fauzi, M. Ag selaku dewan penasehat dari ISNU Banyumas dan juga sebagai pengajar di STAIN Purwokerto, para narasumber memulai penyampaian materi yang pertama oleh Prof. Dr. Phil. Nur Kholis Setiawan, MA

Seminar Nasional ISNU 7

Prof. Dr. Phil. Nur Kholis Setiawan, MA sekarang menjabat sebagai Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI dalam penyampaian materinya menjelaskan beberapa hal. Antara lain, beliau menyampaikan hal tentang Dikotomi dalam sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Dimana pendidikan dasar mulai dari SD, SMP dan SMA/K sederajat diatur oleh Dinas Pendidikan, untuk perguruan tinggi yang lingkupnya tentang pendidikan umum pengelolaannya diatur oleh DIKTI, sedangkan perguruan tinggi yang lingkupnya keagamaan berada di bawah Kementerian Agama.

Beliau juga menjelaskan dalam seminarnya, Indonesia diberkahi dengan bonus demografi pada tahun 2020-2030 kelak. Dimana pada tahun tersebut, jumlah penduduk usia produktif akan lebih banyak daripada usia non produktif. Tapi menurut Prof. Nur Kholis, ini juga bisa menjadi bencana apabila masing-masing individu ataupun organisasi terlalu egoisentris. Maka dari itu menurut beliau dibutuhkan sifat kolektifisentris dimana bonus demografi Indonesia tidak akan menjadi bencana tetapi malah menjadi Rahmat yang luar biasa. Sebagai penutup, beliau juga menyampaikan tentang grand desain pembangunan madrasah di masa depan guna menghadapi pasar bebas dan era global. Dan pentingnya kejujuran dalam berkerja dan berkarya bagi semua tenaga pendidik di lingkungan NU.

Pemateri kedua oleh Dr. KH. Moh. Roqib, M.Ag

Dr. KH. Moh. Roqib, M.Ag ialah pengasuh pesantren mahasiswa Purwokerto. Beliau juga aktif di ISNU sebagai dewan penasehat ISNU Banyumas. Dalam materinya, beliau menyampaikan beberapa hal diantaranya, keanekaragaman golongan masyarakat di dalam NU. Dimana kekayaan sumber daya inilah harusnya menjadi bahan untuk memajukan NU pada khususnya dan Indonesia pada umumnya terutama di bidang pendidikan. Beliau juga menjelaskan sejarah mengapa NU kepanjangannya Nahdlatul Ulama bukan Nahdlatul Umat. Ada 2 alasan, pertama karena umat sendiri juga bisa menjadi ulama, minimal bagi dirinya sendiri. Dan yang kedua menurut beliau, karena ulama merupakan manusia yang terpilih setelah Nabi oleh Allah SWT. Karena “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu).

Pemateri ketiga oleh Dr. Noor Aziz, S.H, M.H

Dr. Noor Aziz, S.H, M.H saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Ilmu Hukum di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Beliau juga aktif sebagai anggota ISNU Kabupaten Banyumas. Dalam materi seminarnya, beliau menyampaikan beberapa poin, yaitu:
a. Tantangan dunia pendidikan dan elemennya di era globalisasi,
b. Kebijakan ekonomi Indonesia
c. Penegakan Hukum
d. Ajaran Critical / Feminism Jurisprudency sebagai akibat dari Women’s Right Movement
e. Kondisi Islam Saat Ini
f. Bagaimana NU menghadapi era global sekarang ini?

Akhirnya setelah pemateri menyampaikan seluruh isi materinya, tibalah di akhir bagian dari seminar ini. Seminar diakhiri dengan penyampaian materi oleh pemenang LKTI Nasional yang diselenggarakan oleh ISNU beberapa waktu yang lalu. Dan acarapun ditutup dengan doa penutup bersama.

Seminar Nasional ISNU 8

Seminar yang diikuti ratusan peserta ini berlangsung hampir selama 4 jam. Dari seminar ini Saya dapat menarik kesimpulan memang selama ini NU dianggap terkesan setengah-setengah dalam pendidikan, namun sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar. Apalagi saat ini dengan sumber daya NU yang luar biasa banyak jumlahnya di Indonesia, diharapkan semakin memajukan dunia pendidikan terutama pendidikan madrasah. Tapi tentu saja, pemerintah juga harus bersinergi dengan masyarakat agar dapat mewujudkan kemajuan dalam dunia pendidikan pada NU khususnya dan Indonesia umumnya. Serta tantangan era globalisasi saat ini harus segera dapat dijawab oleh pelaku didik di lingkungan Ma’arif maupun NU.

Semoga artikel yang Saya tulis ini bermanfaat bagi teman-teman pembaca. mohon maaf apabila ada kesalah dalam penulisan artikelnya.

Untuk yang ingin tahu lebih banyak tentang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Banyumas, silahkan datang ke sekretariatnya di Jalan Jatisari No. 79 Sumampir Purwokerto Utara, atau kunjungi website resminya di www.isnubanyumas.org

Terima Kasih

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Close