Top Menu

Ini cerita tentang bagaimana Saya pribadi benar-benar jatuh cinta dengan klub sepakbola satu ini. Cerita berawal sekitar tahun 2001, waktu itu Saya pribadi tidak terlalu suka sepak bola, termasuk menonton pertandingannya. Karena di sekolahan (SD) saat itu teman-teman sering ngobrol topik satu ini, Saya mulai mencari tahu dan mencoba suka. Namun sampai beberapa waktu masih belum bisa menemukan kenapa Saya harus sampai suka dengan sepak bola. Tapi Real Madrid mengubah segalanya. Mulai dari saat pertama kali Saya melihat Real Madrid bertanding di final Liga Champhions 2001 sampai saat ini, Saya benar benar jatuh cinta dengan sepak bola. Tidak semudah itu tentunya Saya bisa jatuh hati, karena setelah final yang waktu itu ditayangkan di RCTI, Real Madrid bahkan tidak pernah tayang lagi di televisi nasional. Karena pada waktu itu Liga Italia benar-benar menjadi primadona dan setelahnya Liga Inggris yang jadi tontonan wajib kedua.

Baru setelah Piala Dunia 2002, Jerman masuk final bertemu Brasil dan akhirnya kalah, di musim bola berikutnya hal yang tadinya mimpi jadi kenyataan. Ada beberapa poin kenapa hal itu terjadi, yang pertama Jerman dengan Bundesliganya menjadi sorotan dunia setelah final PD 2002, dan banyak stasun tv yang menyangkan liganya. Tapi karena Bundesliga waktu itu kurang menarik, Liga Spanyol akhirnya muncul sebagai alternatif tontonan sepak bola apalagi alasan kedua masuknya Ronaldo ke tim Real Madrid setelah menjadi pemain terbaik PD 2002 dengan membawa Brasil juara dunia. Real Madrid kala itu benar-benar bertabur bintang dengan adanya Zidane, Figo, Raul, Carlos, dan tentunya Ronaldo. Dan Saya sendiri akhirnya bisa menemukan alasan Saya jatuh cinta dengan sepakbola karena hampir tiap minggu bisa menonton Real Madrid.

Di musim berikutnya Real Madrid berhadapan dengan Manchester United di babak knock out Liga Champions. MU dengan bintang paling terangnya saat itu David Bechkam harus takluk di kaki Los Galacticos, walaupun akhirnya Madrid pun gagal menjadi juara. Musim berikutnya, sang bintang paling terang dari MU David Bechkam hijrah ke Real Madrid. Komplit sudah tim bertabur bintang dengan susunan pemain bintang di setiap lini Madrid kala itu. Saya sendiri pun jadi makin tergila-gila dengannya. Namun sayangnya tim penuh bintang tidak menjamin Madrid menjadi juara. Banyak yang berpendapat kala itu Madrid terlalu banyak bintang sehingga pemain bintang tersebut malah seolah-olah bermain sendiri, tidak ada kerja sama tim yang baik, dan berbagai alasan lainnya. Di tambah dari segi eksternal tim, di tanah Spanyol kala itu muncul Barcelona dengan kekuatan hebatnya. Di gawangi trio Ronaldinho, Eto’o dan Deco ditambah Xavi benar-benar tak terbendung bahkan bagi tim Galacticos Real Madrid.

Sama halnya di Spanyol, di tanah eropapun Madrid selalu keok di fase knock out, entah kala itu dari Lyon, Arsenal, Munchen, dan beberapa tim eropa lainnya selalu berhasil menjegal Madrid masuk ke babak berikutnya. satu per satu bintang Madridpun hengkang. Mulai dari Figo, Carlos, Ronaldo bahkan Zidane. Tepat musim 2006/2007 kala itu cuma tersisa Bechkam sebagai bintang pembelian dari rencana membangun Galacticos, tentunya dengan pemain Madrid lainnya yang tidak kalah kebintangannya menjadi musim terbaik Madrid sepanjang masa (Bagi Saya). Ya setelah beberapa tahun tidak pernah meraih gelar turnamen mayor entah Copa, Liga atau Champions, di musim itu Madrid menjadi juara Liga Spanyol dengan mematahkan dominasi Barcelona dengan sangat amat dramatis. Bagi Saya yang suka Madrid sejak bebrapa tahun dan melihat tim kesayangan tanpa gelar tentu amat mnyedihkan. Tapi musim tersebut akhirnya mimpi yang jadi kenyataan.

Dengan diarsiteki Fabio Capello, Madrid bermain sangat defensive dan cenderung angin-anginan sepanjang musim. Nistelroy dan Raul sebagai ujung tombak, di kanan kiri ada Reyes dan Bechkam dibantu Cicinho dan digawangi oleh Casillas dan Canavaro, Real Madrid berhasil meraih gelar juara. Hasil poin akhir sama dengan Barcelona kala itu dan bahkan Madrid kalah selisih gol, Madrid tetap dinyatakan sebagai juara karena menang head to head dengan Barcelona. Di laga pertama, Madrid berhasil menahan imbang sang rival abadi dengan skor 3-3 dan kala itu juga ajang munculnya sang legenda Messi dengan mencetak hattricknya. Di laga kedua Madrid berhasil menang dengan skor 2-1 sehingga unggul agregat 5-4. Barcelona kala itu masih mengerikan dengan sering mencetak gol dalam jumlah besar, namun sesekali tersandung bahkan sewaktu melawan tim kecil. Tak beda jauh dengan Barca, Madridpun demikian. Kadang seri, kadang kalah, sering juga menang. Bahkan sampai beberapa pekan terakhir, poin kedua tim saling susul menyusul. Bisa dibilang setiap pertandingan kala itu adalah final.

Ketika Tuhan sudah berkehendak, tidak ada satu makhlukpun yang dapat menyangkalnya. Itulah kira-kira yang terjadi pada Madrid di musim tersebut. Saya sendiri menjadi saksi betapa heroiknya Beckham dan kawan-kawan sampai akhirnya mnejadi juara. Musim itupun menjadi musim terakhir Bechkam di Madrid yang ditutup dengan manis tentunya. Lompat beberapa tahun terakhir, tahun dimana munculnya sang legenda baru Madrid yaitu Ronaldo “CR7”.

Madrid bnar-benar kembali ke masa jayanya seperti pada watu tim ini muncul prtama kali. Rekor demi rekorpun tercipta baik secara individu maupun secara tim. Diduetkan dengan Kaka, Ozil, Dimaria, dan sekarang Bale, Ronaldo benar-benar menjadi sosok superior dengan membawa Madrid meraih berbagai gelar dan mengalahkan dominasi Barcelona dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dengan Messinya.

Dalam 4 tahun terakhir Liga Champions, Real Madrid bahkan dapat memenangkan gelar 3 kali, dua diantaranya berturut-turut yang benar-benar pencapaian luar biasa bagi sebuah tim sepakbola. Bagi Saya sendiri ini juga merupakan suatu kebanggaan. Memang Saya tidak dapat apa-apa seperti uang hadiah atapun trofi, tapi kepuasaan hatilah yang Saya dapat. Terlebih Saya suka dengan klub ini dari 15 tahun terakhir. Dan menjadi saksi bagaimana pertandingan Madrid tiap musim selama waktu tersebut. Jadi bagi Saya, walau Messi berhasil mencetak 1.000 gol, atau Juventus menjadi juara Liga Italia 100 kalinya atau kelak sang mega bintang Ronaldo hengkang dari sini, Real Madridlah yang tetap di hati.

Tulisan ini Saya persembahkan untuk Madridista di seluruh Indonesia. iHalaMadrid! iHalaMadrid! iHalaMadrid!

Berikut video perayaan Real Madrid setelah menjadi juara Liga Champions ke 12 kalinya:

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Close